JAKARTA - Langkah ekspansi kembali diambil PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) di tengah upaya memperkuat fondasi bisnis ritel jangka panjang.
Pengelola jaringan Hypermart ini resmi menandatangani perjanjian pembelian lahan strategis di kawasan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten, sebagai bagian dari penambahan aset operasional perseroan. Transaksi bernilai puluhan miliar rupiah tersebut menegaskan komitmen MPPA dalam menjaga kesinambungan bisnis sekaligus membuka ruang pengembangan usaha ke depan.
Akuisisi lahan ini dilakukan di saat industri ritel masih menghadapi tantangan dinamika konsumsi dan perubahan perilaku belanja masyarakat. Meski demikian, MPPA melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka melalui optimalisasi aset, penguatan jaringan distribusi, dan efisiensi operasional. Pembelian tanah di Balaraja menjadi salah satu strategi konkret yang disiapkan perseroan untuk menopang agenda ekspansi jangka menengah dan panjang.
Detail Transaksi Pembelian Lahan di Balaraja
Corporate Secretary MPPA, Mirtha Sukanto, mengungkapkan bahwa perseroan telah menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) tanah dengan PT Balaraja Sentosa pada 18 Februari 2026. Nilai transaksi pembelian lahan tersebut mencapai Rp54,5 miliar, di luar Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
“Perseroan dan PT Balaraja Sentosa telah menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli Hak Atas Tanah, dimana Perseroan bermaksud untuk membeli tanah seluas 38.169 m²,” kata Mirtha.
Lahan yang akan diakuisisi MPPA memiliki luas total 38.169 meter persegi dan berlokasi di Kelurahan Sukamurni serta Kelurahan Tobat, Kecamatan Balaraja. Lokasi tersebut dinilai strategis untuk mendukung aktivitas usaha perseroan, baik dari sisi logistik maupun pengembangan fasilitas pendukung lainnya.
Status Legalitas dan Skema Penyelesaian Transaksi
Dari sisi legalitas, tanah yang menjadi objek transaksi memiliki alas hak berupa Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB). Mirtha menjelaskan, terdapat tiga bidang tanah dengan nomor identifikasi berbeda yang masuk dalam perjanjian tersebut, yakni SHGB nomor 28.04.000133500.0 (eks No.08), 28.04.000121027.0 (eks No.09), serta 28.04.000121029.0 (eks No.459).
Adapun nilai transaksi pembelian tanah tersebut ditetapkan sebesar Rp54.500.000.000, belum termasuk kewajiban PPN. Meski telah menandatangani perjanjian, penyelesaian transaksi masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak sebagaimana tertuang dalam perjanjian pengikatan jual beli tersebut.
Manajemen MPPA menilai struktur transaksi ini memberikan fleksibilitas sekaligus kepastian hukum dalam proses akuisisi aset, sehingga diharapkan dapat berjalan sesuai rencana tanpa mengganggu likuiditas perseroan.
Dampak Akuisisi terhadap Strategi dan Pemegang Saham
MPPA menegaskan bahwa langkah pembelian lahan ini diyakini akan memberikan dampak positif bagi keberlangsungan usaha perseroan. Selain memperkuat basis aset, akuisisi tersebut diharapkan mendukung rencana pengembangan operasional di masa mendatang.
“Penandatangan Perjanjian oleh Perseroan akan memberikan dampak positif terhadap kegiatan usaha yang dijalankan oleh Perseroan serta memberikan nilai tambah bagi pemegang saham Perseroan,” ujar Mirtha.
Dalam konteks strategi jangka panjang, penguatan aset tetap seperti tanah menjadi salah satu elemen penting untuk menjaga stabilitas operasional dan meningkatkan nilai perusahaan. Langkah ini juga mencerminkan upaya MPPA untuk tetap agresif secara selektif di tengah tantangan industri ritel yang terus berkembang.
Kinerja Keuangan MPPA Sepanjang 2025
Dari sisi kinerja, PT Matahari Putra Prima Tbk. mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp7,25 triliun sepanjang 2025. Capaian tersebut tumbuh 1,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp7,11 triliun. Berdasarkan laporan kinerja yang dirilis Selasa (17/2/2026), peningkatan pendapatan tersebut diikuti dengan kenaikan laba bruto sebesar 2,8% menjadi Rp1,26 triliun.
Pertumbuhan laba bruto tersebut didorong oleh perbaikan bauran penjualan serta penerapan strategi merchandising yang lebih efektif. CEO MPPA, Adrian Suherman, menyampaikan bahwa kinerja tahun buku 2025 mencerminkan kemajuan berkelanjutan dalam memperkuat fundamental perusahaan.
“Respons positif terhadap inisiatif rebranding semakin memperkuat keyakinan kami bahwa upaya ini akan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang,” ujar Adrian dalam keterangan resmi.
Meski demikian, MPPA mencatatkan laba operasional sebesar Rp26 miliar pada 2025. Angka tersebut terkoreksi 23,1% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp33 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh langkah perseroan yang tetap agresif berinvestasi pada inisiatif operasional, pengembangan format ritel baru, serta penyegaran produk guna memperkuat daya saing.
Tantangan dan Fokus Jangka Panjang Perseroan
Di tengah pertumbuhan pendapatan, MPPA masih membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp152,19 miliar pada 2025. Nilai tersebut meningkat dibandingkan rugi Rp118,11 miliar pada 2024. Manajemen menilai kondisi ini sebagai bagian dari fase investasi yang ditempuh perseroan untuk memperkuat struktur bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
Dengan langkah akuisisi lahan di Balaraja, MPPA menunjukkan fokusnya tidak hanya pada kinerja jangka pendek, tetapi juga pada pembangunan fondasi aset yang dapat mendukung ekspansi dan efisiensi operasional di masa depan. Strategi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pemulihan kinerja dan peningkatan nilai perusahaan secara berkelanjutan.