Nilai Tukar Rupiah

Pergerakan Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 11 Maret 2026 Diproyeksi Menguat

Pergerakan Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 11 Maret 2026 Diproyeksi Menguat
Pergerakan Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 11 Maret 2026 Diproyeksi Menguat

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan pelaku pasar pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026. 

Setelah mencatatkan penguatan pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif sepanjang hari, meskipun memiliki peluang untuk ditutup menguat secara terbatas.

Pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik dari faktor global maupun domestik. Optimisme investor terhadap perkembangan geopolitik global, penurunan harga minyak dunia, serta data ekonomi dalam negeri yang relatif positif menjadi beberapa faktor yang turut memengaruhi arah pergerakan mata uang Indonesia tersebut.

Berdasarkan berbagai indikator pasar dan analisis pelaku pasar keuangan, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran tertentu terhadap dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Pergerakan Rupiah Diperkirakan Fluktuatif

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026 diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat secara terbatas. Rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS.

Pergerakan ini terjadi setelah rupiah menunjukkan kinerja positif pada perdagangan sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa, 10 Maret 2026, rupiah berhasil ditutup menguat cukup signifikan terhadap dolar AS.

Pada penutupan perdagangan tersebut, rupiah tercatat menguat sebesar 85 basis point atau naik sekitar 0,50 persen ke level Rp16.864 per dolar AS. Penguatan ini menunjukkan adanya dorongan positif dari sentimen pasar global maupun domestik yang memengaruhi pergerakan mata uang.

Selain itu, indeks dolar AS juga mengalami pelemahan pada periode yang sama. Indeks dolar tercatat turun sebesar 0,68 persen ke posisi 98,50. Pelemahan dolar AS tersebut menjadi salah satu faktor yang memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Menguat

Penguatan rupiah tidak terjadi sendirian. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami penguatan terhadap dolar AS pada periode yang sama.

Berdasarkan data pasar, mata uang dengan penguatan terbesar adalah peso Filipina yang naik sebesar 0,96 persen terhadap dolar AS. Setelah itu, ringgit Malaysia juga mencatatkan penguatan signifikan sebesar 0,90 persen.

Selain kedua mata uang tersebut, won Korea Selatan juga mengalami apresiasi sebesar 0,62 persen. Sementara itu, rupee India naik sekitar 0,60 persen terhadap dolar AS.

Mata uang lainnya seperti yuan China turut mengalami penguatan sebesar 0,50 persen. Dolar Taiwan juga bergerak naik sebesar 0,44 persen, sementara baht Thailand menguat sekitar 0,23 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap mata uang Asia cukup merata di tengah pelemahan dolar AS di pasar global.

Sentimen Global Dorong Penguatan Rupiah

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan mata uang Garuda menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi cukup tajam hari ini oleh optimisme investor atau risk on seiring turunnya harga minyak dunia.

Menurutnya, perubahan sentimen investor yang menjadi lebih optimistis terhadap kondisi pasar global turut mendorong minat terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Optimisme tersebut juga berkaitan dengan perkembangan geopolitik global. Pasar merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut bahwa konflik atau perang yang berlangsung berpotensi segera berakhir.

Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga mempertimbangkan langkah untuk mengambil alih pengamanan Selat Hormuz guna menjaga kelancaran jalur pasokan energi global. Kebijakan tersebut juga disertai dengan wacana pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia.

Namun, Lukman juga mengingatkan bahwa sentimen positif tersebut belum tentu bertahan dalam jangka panjang. Perubahan kondisi geopolitik dapat membuat sentimen pasar kembali berbalik arah sewaktu-waktu.

Faktor Domestik Ikut Menopang Rupiah

Selain sentimen global, pergerakan rupiah juga didukung oleh faktor domestik. Salah satu faktor yang memberikan dorongan positif adalah data penjualan ritel yang tercatat lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Data ekonomi domestik yang positif tersebut menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi masyarakat masih cukup kuat. Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa perekonomian dalam negeri masih memiliki daya tahan yang baik.

Dengan tidak adanya rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat dalam waktu dekat, analis menilai bahwa pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu sentimen global yang saat ini paling diperhatikan oleh pelaku pasar keuangan dunia.

Rupiah Dibuka Menguat di Awal Perdagangan

Pada awal perdagangan Rabu pagi, rupiah juga tercatat memulai sesi dengan penguatan. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB, nilai tukar rupiah terapresiasi sekitar 0,07 persen atau naik 12 poin ke level Rp16.851 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS pada periode yang sama tercatat bergerak relatif stabil atau stagnan di level 98,83.

Penguatan pada awal perdagangan ini melanjutkan tren positif yang sudah terjadi pada hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Selasa (10/3/2026), rupiah ditutup menguat 87 poin ke posisi Rp16.862 per dolar AS.

Dalam perdagangan intraday pada hari tersebut, rupiah bahkan sempat menguat lebih tinggi dengan apresiasi mencapai 95 poin terhadap dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen global yang menyertai pasar keuangan adalah perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS).

Situasi geopolitik global tersebut dinilai masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan internasional, termasuk nilai tukar berbagai mata uang di dunia.

Dengan berbagai sentimen yang masih berkembang, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap dinamis sepanjang perdagangan hari ini. Para pelaku pasar pun terus mencermati perkembangan situasi global serta data ekonomi terbaru yang dapat memengaruhi arah pergerakan mata uang dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index