JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menutup tahun fiskal 2025 dengan capaian kinerja yang menunjukkan ketahanan bisnis.
Di tengah dinamika suku bunga, bank mampu mempertahankan pertumbuhan laba secara konsisten. Capaian ini mencerminkan pengelolaan keuangan yang adaptif dan terukur.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp23,60 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan Rp20,90 triliun pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi indikator positif atas strategi operasional yang dijalankan perseroan.
Peningkatan laba tersebut diperoleh di tengah kenaikan beban bunga yang signifikan. Kondisi ini menuntut manajemen untuk mengelola margin secara lebih cermat. BNI berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan efisiensi.
Pendapatan Bunga dan Tantangan Efisiensi
Pendapatan bunga menjadi pendorong utama kinerja laba sepanjang tahun 2025. Total pendapatan bunga tercatat sebesar Rp69,39 triliun, meningkat Rp2,81 triliun dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini setara dengan pertumbuhan sekitar 4,2 persen secara tahunan.
Namun, peningkatan pendapatan tersebut diiringi oleh lonjakan beban bunga. Beban bunga naik menjadi Rp29,06 triliun dari Rp26,10 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan sebesar Rp2,96 triliun ini memberikan tekanan pada margin bunga bank.
Dampaknya, pendapatan bunga bersih sedikit terkoreksi menjadi Rp40,33 triliun dari Rp40,48 triliun. Meski demikian, koreksi ini relatif tipis dan masih dalam batas terkendali. Kondisi tersebut menunjukkan ketahanan model bisnis BNI.
Pendapatan Operasional dan Manajemen Risiko
Untuk mengimbangi tekanan margin bunga, BNI mengandalkan pendapatan operasional lainnya. Pos ini tumbuh menjadi Rp19,10 triliun dari Rp18,61 triliun pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut memberikan kontribusi penting terhadap laba bersih.
Selain itu, keberhasilan manajemen risiko menjadi faktor kunci penguatan kinerja. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan berhasil ditekan menjadi Rp7,10 triliun. Angka ini turun signifikan dari Rp9,21 triliun pada tahun sebelumnya.
Efisiensi risiko sebesar Rp2,11 triliun tersebut berdampak langsung pada peningkatan laba. Langkah ini mencerminkan kualitas pengelolaan portofolio kredit yang lebih baik. Pendekatan kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama perseroan.
Ekspansi Aset dan Penyaluran Kredit
Dari sisi neraca, BNI mencatat ekspansi aset yang stabil sepanjang tahun 2025. Total aset konsolidasian mencapai Rp1.144,35 triliun pada akhir tahun. Nilai ini meningkat dibandingkan posisi Rp1.086,59 triliun pada akhir tahun sebelumnya.
Pertumbuhan aset mencerminkan strategi ekspansi yang tetap berhati-hati. Penyaluran pembiayaan dilakukan secara selektif untuk menjaga kualitas aset. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip manajemen risiko jangka panjang.
Pinjaman yang diberikan menjadi kontributor utama pertumbuhan aset. Nilai pinjaman kotor mencapai Rp756,12 triliun, meningkat dari Rp710,67 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan peran aktif BNI dalam mendukung pembiayaan ekonomi.
Liabilitas dan Struktur Permodalan
Untuk menjaga kualitas aset, BNI mempertebal cadangan kerugian penurunan nilai pinjaman. CKPN atas pinjaman meningkat menjadi Rp35,86 triliun. Langkah ini memperkuat perlindungan terhadap potensi risiko kredit.
Di sisi lain, aset berupa surat berharga tercatat sebesar Rp213,22 triliun. Nilai ini sedikit menurun dari Rp221,65 triliun pada tahun sebelumnya. Penyesuaian tersebut mencerminkan strategi pengelolaan likuiditas yang dinamis.
Pada sisi pasiva, liabilitas bank meningkat menjadi Rp973,83 triliun dari Rp932,18 triliun. Peningkatan ini terutama berasal dari simpanan nasabah serta liabilitas kontrak asuransi yang diatur dalam PSAK 117. Meski demikian, ekuitas tetap kokoh di level Rp170,52 triliun, tumbuh dari Rp154,41 triliun.